Selamat Datang

Selamat Datang di Blog Ade Fauji

Tuesday, 7 February 2012

Catatan 7 Februari 2012


بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم
 
Hari ini bertepatan dengan tanggal 14 Rabiul Awal 1433H atau 7 Februari 2012.

Ya Allah.....,

Terima kasih, sudah menambah umurku satu tahun lagi, entah berapa umur yang nanti engkau berikan kepada hamba mu ini, tapi yang ku mohon, beri kesempatan untuk berbuat terbaik melalui setiap kata yang ku tulis, setiap kalimat yang kuuntai untuk memuliakan namaMu dan membanggakan keluargaku.

Ya Allah......, 

Terima kasih untuk setahun yang luar biasa yang telah Engkau berikan padaku, limpahan Rahmat dan Marifat yang tidak berkesudahan, terima kasih untuk jalan yang telah Engkau lapangkan, pintu yang Engkau bukakan dan keran berkat yang mengucur deras yang Engkau limpahkan.

 
Di Miladku ini, aku ingin memohon kepada Mu Ya Allah, berikan kesehatan untuk orang tuaku, saudaraku dan juga keluargaku serta kebahagian untuknya dimasa saat ini dan yang akan datang, Engkau maha tahu apa sedang kami alami saat ini berikan segala kemudahan dalam setiap permasalahan.

Ya Allah......., 

Ajarkan aku untuk selalu rendah hati dengan kepala tertunduk dan pimpin hidupku diwaktu yang akan datang. Ku pasrahkan setiap tarikan nafasku, setiap langkahku hanya kepada Mu sekarang dan selamanya.

Untuk sahabat semua terima kasih atas doanya.

Amin Ya Robbal Alamin
 
Ade Fauji

Saturday, 7 January 2012

LEMBAGA SISTEM JAMINAN MUTU PRODUK


Sedikitnya ada lima lembaga yang berperan didalam jaminan mutu produk pangan dan pertanian, yaitu:

1.         Kelompok Tani Produsen
Bertanggungjawab terhadap perancangan dan penerapan system di bidang usahanya. Kelompok petani ini dapat menggunakan konsultan atau peranan penyuluhan pertanian untuk membantu perancangan system tersebut.

2.         Kelompok Pedagang dan Pembeli Terakhir
Kelompok ini memegang peranan penting didalam penciptaan kepedulian akan mutu. Konsekuensi logis yang seharusnya menjadi tanggungjawab kelompok ini adalah pembiayaan yang timbul dari system sertifikasi.

3.         Lembaga Inspeksi dan Laboratorium Uji
Lembaga ini bertanggungjawab terhadap pemeriksaan kebenaran mutu melalui mekanisme kerja sistematis dan diakui. Lembaga ini bertanggungjawab terhadap penyediaan fasilitas inspeksi dan uji yang cepat, tepat, akurat, jujur, dan tidak memihak. Pengoperasian aktifitas inspeski dan uji sepenuhnya memerlukan biaya yang memadai.

4.         Lembaga Sertifikasi Sistem Manajemen Mutu dan Lembaga Sertifikasi HACCP
Lembaga ini bertanggungjawab terhadap pemeriksaan jaminan mutu melalui evaluasi aktifitas suatu organisasi. Pemeriksaan dilakukan di tiga titik, yaitu pengadaan bahan, proses pengolahan, dan penyerhan produk jadi. Lembaga ini memeriksa rangkaian system manajemen dan bukti uji produknya sebagai verifikasi system.

5.         Lembaga Akriditasi
Secara nasional telah ditetapkan melalui PP No 102-2000 hanya satu, yaitu Komite Akriditasi Nasional (KAN-BSN). Lembaga ini bertanggungjawab atas penilaian akreditasi yang teliti dan independen kepada lembaga sertifikasi. Lembaga ini memiliki kewenangan penuh untuk mencabut atau memperpanjang sertifikasi akreditas suatu lembaga sertifikasi.

Dimana setiap lembaga diatas memiliki fungsi dan peranan masing-masing didalam upaya jaminan mutu tersebut.

Tuesday, 3 January 2012

Sistem Keamanan Pangan


Untuk produk makanan, sistem pengendalian mutu diawali dengan prinsip penerapan Good Manufacturing Practices (GMP), yakni mendefinisikan dan mendokumentasikan semua persyaratan yang diperlukan agar produk pangan dapat diterima mutunya. Pada GMP titik perhatian ditujukan pada keamanan mikrobiologis dan persyaratan mutu pangan.

Berikut ini persyaratan dasar yang harus dipenuhi dalam penerapan GMP sesuai dengan Codex General Priniciples of Food Hygiene (CAC/RCP 1-1969. rev 4-2003) atau (SNI CAC/RCP 1:2011 Rekomendasi Nasional Kode Praktis – Prinsip Umum Higienie Pangan) meliputi beberapa hal sbb:
1.         Produksi Primer
1.1. Higiene lingkungan
1.2. Produksi sumber pangan yang higienis
1.3. Penanganan, penyimpanan dan transportasi
1.4. Pembersihan, pemeliharaan dan higiene personil pada produksi primer
2.         Sarana produksi: Desain dan fasilitas
2.1. Lokasi
2.2. Bangunan dan ruangan
2.3. Peralatan
2.4. Fasilitas
3.         Pengendalian kegiatan operasional
3.1.  Pengendalian bahaya pangan
3.2. Aspek kunci system kendali hygienis
3.3. Persyaratan bahan masuk
3.4. Kemasan
3.5. Air
3.6. Manajemen dan pengawasan
3.7. Dokumentasi dan rekaman
3.8. Prosedur penarikan produk
4.         Sarana produksi: Pemeliharaan dan sanitasi
4.1. Pemeliharaan dan pembersihan
4.2. Program pembersihan
4.3. Sistem Pengendalian hama
4.4. Pengelolaan limbah
4.5. Pemantauan efektivitas
5.         Penetapan: Higiene personal
5.1. Status kesehatan
5.2. Sakit dan cedera
5.3. Kebersihan personal
5.4. Perilaku personal
5.5. Pengunjung
6.         Transportasi
6.1. Umum
6.2. Persyaratan
6.3. Penggunaan dan pemeliharaan
7.         Informasi produk dan kesadaran konsumen
7.1. Identifikasi lot
7.2. Informasi produk
7.3. Pelabelan
8.         Pelatihan
8.1. Kesadaran dan tanggung jawab
8.2. Program pelatihan
8.3. Instruksi dan supervisi
8.4. Pelatihan penyegaran

Publikasi system HACCP yang telah diperkenalkan Codex Alimentarius Commission tentang 7 prinsip HACCP dan 12 langkah pedoman penerapannya yang diadopsi oleh Badan Standarisasi Nasional, dimana Sistem HACCP ini bersifat pencegahan yang berupaya untuk mengendalikan suatu area atau titik dalam system pangan yang mungkin berkontribusi terhadap suatu kondisi bahaya, baik kontaminasi mikroorganisme pathogen, objek fisik, kimia terhadap bahan baku, suatu proses, penggunaan langsung oleh pengguna ataupun kondisi penyimpanan dan system tersebut memiliki 7 prinsip yang secara garis besar dipergunakan untuk menetapkan, menerapkan, dan memelihara rencana HACCP suatu operasi.

Berikut ini 12 Langkah dan 7 prinsip dalam penerapan HACCP:
1.         Pembentukan tim HACCP
2.         Deskripsi Produk
3.         Identifikasi rencana HACCP
4.         Penyusunaan Bagan Alir
5.         Konfirmasi Bagan Alir dilapangan
6.         Pelaksanaan Analisis Bahaya. Persiapan suatu daftar tahapan proses dimana ditemukan bahaya signifikan dan deskripsi ukuran pencegahannya
7.         Identifikasi titik kendali kritis (TKK/CCP) dalam proses
8.         Penetapan batas kritis untuk ukuran pencegahan berkaitan dengan setiap TKK teridentifikasi
9.         Penetapan persyaratan pemantauan TKK. Penetapan prosedur dari hasil pemantauan untuk menerapkan pengendalian proses dan pemeliharaan
10.     Penetapan tindakan koreksi yang diambil manakala pemantauan mengindikasikan suatu penyimpangan dari batas kritis yang ditetapkan
11.     Penetapan prosedur efektif pemeliharaan rekaman dari dokumen system HACCP
12.     Penetapan prosedur untuk verifikasi bahwa system HACCP telah bekerja dengan baik.

Catatan:
1 – 12 : Langkah penerapan HACCP
6 – 12 : Prinsip Penerapan HACCP

Perkembangan saat ini mengenai Food Safety Management System (FSMS) telah dikembangkan standar ISO 22000:2005 dan ISO TS 22002-1, PAS 220/PAS 222 serta FSSC 22000.


Link FSSC 22000: http://bit.ly/sgHfld
Link PAS: http://bit.ly/s8ex6T   
Link BSN/SNI : http://bit.ly/tnk3oL
Link Codex: http://bit.ly/sTogY

Tuesday, 14 June 2011

Benarkah Perusahaan Anda Tidak Punya System?

By: Dadang Kadarusman - 7 Juni 2011



Dalam beberapa forum saya mendengar orang-orang mengatakan; ”perusahaan tidak punya system.” Saya bertanya;”Apa iya?” Nyatanya, banyak orang yang menyebut-nyebut kata ‘system’ namun tidak benar-benar memahami maknanya. Pemahaman keliru itu menyebabkan banyak yang mengira tidak ada system, padahal sudah ada. Banyak juga yang mengira bahwa untuk membuat suatu system diperlukan biaya besar. Padahal membuat system itu bisa murah dan sederhana. Kalau membuat ‘system yang terkomputerisasi’, bisa jadi memang sangat mahal sekali. Lho, dimana letak perbedaannya?



Vonis ‘tidak ada system’ sering digunakan secara salah kaprah. Banyak yang mengira bahwa ‘system’ itu selalu berkaitan dengan komputer. Perusahaan Anda pasti sudah punya system, namun mungkin tidak terkomputerisasi. Tetapi apakah system yang ada itu harus selalu terkomputerisasi? Ya tidak harus begitu. Anda pun bisa menyajikan sebuah system yang efektif hanya dengan menggunakan beberapa lembar kertas. System di perusahaan Anda sudah ada, namun mungkin perlu segera diperbaharui. Bagi Anda yang tertarik untuk belajar memahami system yang ada di perusahaannya, saya ajak untuk memulainya dengan menerapkan 5 kemampuan Natural Intelligence berikut ini:



1. Bedakan antara ‘system’ dengan ‘system terkomputerisasi’. System itu adalah metode baku atau kerangka proses yang memaparkan prosedur, langkah-langkah dan konsekuensi logis yang dibuat untuk mengatur aktivitas atau menjalankan tugas-tugas tertentu. System tidak harus disajikan dalam suatu program komputer yang rumit. Jadi, tidak selalu berkaitan dengan ‘komputerisasi’. Fahamilah perbedaan antara ‘system’ dengan ‘system terkomputerisasi’, maka Anda akan memiliki pandangan yang lebih jernih tentang system yang berlaku di perusahaan tempat Anda bekerja.



2. Bukan tidak ada system, melainkan system yang ada perlu segera dibenahi. Peraturan tentang tata cara Anda mengerjakan sesuatu, reward yang berkaitan dengan penyelesaian pekerjaan, serta catatan atas semua hasil kerja Anda adalah bagian dari system. Jika hal-hal seperti itu sudah tidak sesuai dengan kondisi kerja aktual Anda, maka yang harus dilakukan bukanlah memvonis perusahaan dengan sebutan ‘tidak memiliki system’ melainkan segera membenahi system itu supaya lebih mampu untuk mengakomodasi kondisi dan tuntutan kerja terkini.



3. System dapat dibuat secara sederhana hingga sangat kompeks. Janganlah terjebak pada pemikiran yang rumit dan kompleks. Suatu system yang baik justru harus dapat dengan mudah dipahami oleh orang-orang yang akan menggunakannya. Banyak perusahaan yang telah mengeluarkan biaya besar untuk membangun suatu system, namun para karyawannya enggan menggunakan system itu karena terlalu kompleks. Anda boleh membuat system yang rumit jika dan hanya jika memang tuntutan bisnis Anda mengharuskan demikian. Jika tidak, pastikan bahwa system yang Anda buat disajikan sesederhana mungkin.



4. System dapat dibuat pada level unit kerja. Unit kerja itu seperti sel-sel dalam tubuh kita. Dia merupakan miniatur dari keseluruhan kinerja organ-organ tubuh kita. Dia bekerja sejalan dengan proses kerja semua bagian tubuh kita namun mungkin mekanismenya berbeda-beda. Oleh sebab itu, setiap unit kerja harus memiliki dokumen yang memuat system kerja yang berlaku disana sehingga setiap orang dalam unit kerja itu akan melakukan aktivitas dengan standard dan tata cara yang sama.



5. Setiap atasan bertanggungjawab terhadap system kerja di unitnya. Banyak system kerja yang disajikan secara verbal. Terutama pada perusahaan-perusahaan yang belum memiliki tata kelola yang baik. Praktek seperti ini tentu sangat menyulitkan proses pengawasan. Orang yang paling bertanggungjawab untuk membenahinya bukanlah Presiden Direktur, melainkan pemimpin pada unit kerja itu sendiri. Mungkin supervisor atau unit manager. Setiap orang yang memiliki bawahan harus memastikan system kerja untuk semua bawahannya terdokumentasikan dan tersajikan dengan rapi sehingga mudah diakses dan dapat dijadikan acuan bagi semua orang dalam unit kerja yang dipimpinnya. Jika system itu ‘belum ada’, maka sebagai atasan Anda harus menjadikannya ‘ada’.



Suatu system dibuat untuk memastikan adanya standard kerja atau aktivitas yang baku dalam menyelesaikan penugasan atau pemecahan suatu masalah. Hanya karyawan pada level paling rendah alias tidak memiliki anak buah yang boleh mempertanyakan; “mana systemnya?”. Jika Anda memiliki bawahan, maka Andalah yang memiliki kewajiban untuk memastikan adanya system yang baik untuk dijalankan oleh setiap orang dalam unit kerja Anda. Sudah saatnya bagi seorang leader untuk berhenti mempertanyakan keberadaan system di perusahaan. Lalu memposisikan diri sebagai perumus dan pengontrol penerapan system yang berlaku di unit kerjanya masing-masing. Pada kesempatan berikutnya, mudah-mudahan kita bisa membahas langkah-langkah sederhana dalam proses penyusunan sebuah system di suatu unit kerja.



Catatan Kaki:
Bergantung cara pandang, kondisi, dan kebutuhan kita; suatu system bisa sangat rumit sekali, tapi bisa juga sangat sederhana namun sama efektifnya.

Buat Email Gratis Fikom Selaras

Hi apa kabar semuanya....

lama tidak update di blogspot nih...
kangen rasanya untuk membuat tulisan ....
namun kali ini saya ingin memperkenalkan email gratis dari fikom selaras dengan domain.. (domainanda@fikomselaras.co.cc) walaupun gratisan yg penting asik...
dan untuk membuka emailnya anda klik link ini http://mail.live.com
bagi anda yg membutuhkan silahkan sign up pada banner diatas.
semoga bermanfaat.

salam